Sudah 1 tahun lebih saya lulus sarjana, berarti sudah 1 tahun pula saya berjuang untuk menggapai mimpi melanjutkan studi dengan beasiswa. Sebelum lulus saya sudah merencanakan dengan matang persiapan saya untuk mencari beasiswa dan langkah pertama yang saya lakukan adalah persiapan bahasa inggris. Persiapan bahasa inggris saya lakukan di Kampung Inggris Pare pada salah satu lembaga yang saya pilih karena menawarkan program persiapan IELTS selama 3 bulan dengan bulan pertama diisi dengan rehabilitasi dasar bahasa Inggris saya. Saat memulai persiapan bahasa inggris kemampuan bahasa inggris saya masih minim dengan hasil TOEFL ITP saat lulus kuliah sebesar 470. Selama 3 bulan di Pare saya tidak hanya belajar bahasa Inggris namun juga melakukan persiapan beasiswa seperti mempersiapkan dokumen dan mencari informasi. Salah satu event beasiswa terbesar yang saya datangi di Jakarta yakni European Higher Education Fair (EHEF) 2017. Disini saya mendapat banyak sekali informasi penting hingga persyaratan masuk kampus-kampus top dunia. Setelah selesai belajar bahasa inggris di Pare saya melanjutkan belajar IELTS di rumah selama sebulan untuk latihan sendiri secara intensif. Akhirnya saya mendaftar tes IELTS di British Council (BC) pada 6 Januari 2018. Ada plus minus yang saya dapatkan dari tes di BC, plusnya adalah saya mendapat examiner orang Indonesia sehingga mempermudah saya dalam komunikasi dengan membawa contoh yang ada di Indonesia dan minusnya adalah tes dilaksanakan di ruang yang sangat besar berisi 100 orang lebih membuat ruangan kurang kondusif saat listening serta terjadi kerusakan speaker yang memecah konsentrasi. Hasil tes saya akhirnya keluar 14 hari setelah tes dengan overall 6. Tentu saja ini bukanlah hasil yang saya targetkan karena untuk nilai minimal IELTS beberapa beasiswa adalah 6.5 dan setelah mendapat hasil tersebut mental saya semakin turun karena sedikit diremehkan oleh tentor saya karena hasil IELTS saya hanya 6. Setelah itu perjalanan saya dalam mendaftar beasiswa pun dimulai dengan modal saya punya IELTS overall 6. Selanjutnya akan saya breakdown 12 beasiswa yang saya daftar serta resultnya.
1. Fulbright Scholarship (Deadline : 15 Februari)
Fulbright yang diselenggarakan oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Awalnya saya kurang tertarik untuk mendaftar beasiswa ini karena memang kurang minat berkuliah di US tapi daripada kesempatan dilewatkan begitu saja akhirnya saya tetap daftar. Beasiswa ini mematok English proficiency menggunakan TOEFL ITP sebesar 550 namun tetap menerima IELTS setara. Kalau di Stuned membutuhkan motlet kalau FB membutuhkan Study Objective (SO). Perbedaannya terletak pada penjelasan study plan yang lebih dalam pada SO. Penjelasan lebih rinci bisa dilihat di google. Untuk SO ini saya meminta koreksi pada kakaknya temen saya yang pernah mendapat beasiswa dari AMINEF. Untuk beasiswa ini saya memang kurang sekali riset bagaimana kriteria yang diinginkan oleh AMINEF dan bidang apa saja yang masuk prioritas sehingga saya tidak lolos ke tahap wawancara dan baru dapat email tidak lolos pada bulan Agustus. Jadi jika kalian daftar Fulbright dan sampai tanggal untuk tahap wawancara tidak mendapatkan email dari AMINEF artinya kalian tidak lolos yaa, emailnya baru akan masuk setelah semua proses seleksi selesai.
2. Stipendium Hungaricum (Deadline : 16 Februari)
Beasiswa Stipendium Hungaricum ini diberikan oleh Pemerintah Hungaria. Awalnya saya tahu beasiswa ini dari EHEF 2017 dan kata yang jaga standnya peluang lolosnya besar karena masih banyak yang belum tahu beasiswanya. Tapi ternyata pas deket-deket tanggal deadline banyak orang juga yang tahu sampe ada grup telegramnya juga hahaha. Awalnya saya gak terlalu paham tahapan seleksinya setelah kirim aplikasi ternyata saya dapat email kalo saya gak dinominasikan sama Sending Authority yang sepehamanan saya berarti ada seleksi dulu oleh DIKTI sebelum ada seleksi wawancara oleh pihak kampus yang kita pilih. Bisa jadi penilaian dari DIKTI meliputi IPK dan IELTS karena ada beberapa temen yang lolos nominasi itu IPK sekitar 3,5 dan IELTS 6,5-8. Tapi hikmah yang bisa diambil dari pengalaman beasiswa ini saya mulai banyak belajar buat memperbaiki motivation letter saya.
3. Invest Your Talent Scholarship (Deadline : 28 Februari)
Beasiswa selanjutnya yakni Invest Your Talent Scholarship dari Pemerintah Italia. Untuk mendaftar beasiswa ini kita harus sudah memulai pendaftaran di kampus tujuan atau sudah mendapatkan LoA. Kampus tujuan saya yakni Politecnico di Milano dan pendaftarannya mengharuskan kandidat untuk mengirim berkas hard copy ke Italia. Kurang lebih saya menghabiskan uang sebesar 400 ribu untuk mengirim berkas ke Italia lewat Pos Indonesia. Selanjutnya saya melakukan pendaftaran beasiswa yang memerlukan surat rekomendasi dan video berdurasi 1 menit yang berisi motivasi untuk studi di Italia. Saya cukup optimis dengan beasiswa ini karena memang banyak orang yang belum tahu sehingga tingkat persaingan tidak terlalu sulit. Setelah selesai mengirim aplikasi saya tinggal menunggu hasil karena tidak ada tahap wawancara dalam beasiswa ini. Namun nasib berkata lain, satu bulan setelah selesai pengiriman aplikasi beasiswa, saya menerima email untuk mengecek aplikasi pada akun saya. Setelah dicek ternyata saya tidak diterima di Politecnico di Milano dan artinya saya juga sudah pasti tidak akan mendapatkan beasiswa Invest Your Talent :’). Ini saya sedih banget sih karena peluang beasiswanya cukup besar tapi malah gak keterima kampusnya. Buat temen2 yang akan mendaftar beasiswa ini pastikan dulu diterima di kampus tujuan sebelum mengirim aplikasi beasiswa karena tiap kampus punya kuota mahasiswa tiap intakenya gak semua yang daftar akan diterima di kampus.
4. Erasmus+ (Deadline : 28 Februari)
Nah selanjutnya adalah beasiswa Erasmus+ yang awalnya memang saya gak maudaftar karena program yang ditawarkan gak ada yang saya minati. Tiba-tiba pas lagi buka LinkedIn saya nemu temen yang ngelike post dari Centrale Nantes University lalu iseng-iseng liat webnya ternyata mereka baru membuka program Erasmus+ untuk pertama kali pada bidang Renewable Energy dan deadlinenya adalah besok sorenya. Langsung lah saya ngelembur bikin motivation letter dan nyiapin berkas lainnya, lalu pagi harinya saya langsung ke pembimbing skripsi saya untuk minta recommendation letter. Untungnya 2 pembimbing saya pas banget lagi kosong dan ada di ruangan. Akhirnya saya berhasil kirim aplikasi siang harinya. Karena beasiswa ini seleksinya hanya berkas jadi 2 bulan kemudian hasilnya keluar dan ternyata saya masuk reserve list :”). Nilai aplikasi saya kurang 0.23 dari threshold buat lolos beasiswanya :”)
5. Turkiye Burslari Scholarship (YTB) (Deadline : 5 Maret)
Beasiswa selanjutnya yakni Turkiye Burslari (YTB) yang merupakan beasiswa dari pemerintah Turki. Awalnya saya mengincar beasiswa ini secara serius, namun semangat itu jadi buyar setelah memulai mengisi aplikasi beasiswanya saya tidak bisa memilih program studi yang saya inginkan dan hanya diperbolehkan mendaftar program studi berkaitan dengan jurusan saya saat S1. Alhasil saya hanya melakukan persiapan seadanya dan memang karena berbarengan dengan Stuned saya lebih focus pada persiapan Stuned. Pada beasiswa ini diperlukan mengisi Letter of Intent (LOI) isinya yakni sekitar 5-6 pertanyaan berkaitan dengan rencana studi dan rencana thesis yang akan dilakukan. Hasil dari beasiswa ini tentunya sama seperti sebelumnyaa karena kurang usaha saya dalam pengisian LOI yang hanya seadanya.
6. New Zealand ASEAN Scholarship (NZAS) (Deadline : 14 Maret)
Beasiswa dari pemerintah New Zealand buat Negara-negara ASEAN untuk kuliah S2 dan S3. Syarat khusus dari beasiswa ini adalah pengalaman kerja minimal 1 tahun buat full-time dan 2 tahun untuk yang part-time. Harusnya memang saya gak eligible buat daftar tapi pengalaman jadi asisten laboratorium bisa dimasukkan dalam kerja part-time jadi untungnya saya bisa daftar. Untuk daftar juga kita gak perlu punya nilai IELTS dulu karena dalam tahap seleksi beasiswa setelah wawancara akan ada tes IELTS. Bagian tersulit dari beasiswa ini adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada aplikasi beasiswa yang meliputi rencana studi, rencana kontribusi, dan pertanyaan yang berkaitan mengenai leadership dan problem-solving. Beasiswa ini juga ada prioritas jurusan salah satunya yaitu Renewable Energy sisanya saya lupa karena saya ngambilnya RE jadi ingatnya itu aja. Awalnya saya optimis bakal lolos ke tahap wawancara karena jurusan saya termasuk prioritas dan saya menjawab pertanyaan juga dengan jawaban lugas tetapi takdir berkata lain, saya gak lolos seleksi administrasi :’)
7. StuNed Scholarship (Deadline : 15 Maret)
StuNed merupakan beasiswa dari pemerintah Belanda. Beasiswa ini mematok minimum IELTS yakni 6 sehingga saya eligible untuk mendaftar. Karena beasiswa ini mensyaratkan adanya Letter of Acceptance dari salah satu kampus di Belanda selanjutnya saya melakukan pencarian kampus yang hanya mensyaratkan IELTS 6. Akhirnya saya apply ke Wageningen University of Research dan langsung mendapat LoA 2 minggu setelah memasukkan berkas. Selesai dengan LoA saya mulai membuat motivation letter untuk beasiswa StuNed. Kemudian saya meminta saran dan masukkan untuk motlet saya dari 2 awardee stuned tahun 2017 serta 2 teman saya yang jago bahasa inggris untuk memastikan motlet saya mudah dipahami dan secara grammar sudah tepat walaupun saya juga sudah melakukan pengecekan dengan grammarly. Sebenarnya saya pesimis sejak awal pendaftaran karena pernah liat di youtube kalo penerima beasiswa StuNed rata-rata sudah bekerja minimal 1 tahun namun freshgraduate juga ada yang diterima namun IPK mereka rata-rata 3,7 dan dari 3 universitas top Indonesia, tapi saya juga menemukan awardee stuned dari kampus saya dan IPK nya kurang lebih sama ditambah lagi dia Mawapres Nasional. Selain dari IPK saya juga dapat informasi walaupun minimum IELTS untuk mendaftar adalah 6, para kandidat yang diterima stuned rata-rata memiliki nilai IELTS 7.5. Dari sharing tersebut sudah menciutkan semangat saya sebenarnya tapi yasudahlah lebih baik gagal karena mencoba daripada gagal karena tak mau mencoba. Karena beasiswa ini seleksinya hanya dari berkas maka hasilnya pun agak lama dan setelah menunggu sekitar 3 bulan hasilnya keluar seperti pada gambar :’)
8. Australian Awards Scholarship (AAS) (Deadline : 30 April)
Beasiswa ini merupakan beasiswa yang diberikan oleh Pemerintah Australia. Syarat bahasa Inggris dari beasiswa cukup terjangkau yakni IELTS 5.5 dan boleh memakai TOEFL ITP dengan nilai 525. Beasiswa ini juga ada targeted areanya jadi 70% penerima beasiswa akan berasal dari daerah yang diutamakan bisa cek detailnya di web AAS. Kendala saya disini adalah field of study saya tidak menjadi prioritas sehingga kemungkinan keterimanya kecil. Awalnya udah gak mau daftar tapi sayang juga kalau dilewatkan akhirnya saya ambil Applied Innovation. Jadi saya tetep pada bidang energy terbarukan tetapi kuliah yang akan saya ambil mengenai manajemen aplikasi dari teknologi yang hendak diterapkan. Tapi hal ini menjadi masalah saya saat mengisi pertanyaan pada aplikasi karena memang tidak selaras dengan motivation letter lainnya yang saya buat sebelumnya. Alhasil selain rancu di pengisian aplikasi serta saya bukan termasuk di targeted area AAS akhirnya saya tidak lolos tahap pertama.
9. EFS Scholarship (Deadline : 30 April)
Beasiswa ini dari Sirindhorn International Institute of Technology (SIIT) Thailand. Sebenarnya ini beasiswa cadangan saya dan saya yakin bakal keterima disini. Syarat beasiswanya pun relative mudah dan karena universitas ini merupakan pemekaran dari Thammasat University jadi rankingnya masih rendah, dari situ saya berasumsi bahwa peminatnya masih sedikit dan beasiswa ini menawarkan program studi yang saya inginkan juga. tapi hasilnya saat pengumuman nama saya gak ada dan akhirnya tetap berusaha husnuzon kepada Allah mungkin jalan terbaik untuk saya ada di tempat lain :’)
10. Program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU)
Beasiswa dari DIKTI ini merupakan beasiswa akselerasi program Magister-Doktor yang hanya ditempuh dalam waktu 4 tahun. Pas tahu PMDSU tahun ini buka saya langsung gegabah daftar univ terus hubungin promotor dan akhirnya saya udah bayar uang pendaftaran ujian masuk Universitas Diponegoro lalu ternyata malamnya udah bisa akses web PMDSU buat daftar aplikasi ke DIKTI nya dan ternyata saya gabisa daftar karena IPK saya kurang 0.05! saya sangat menyesali karena saya terlalu gegabah dan percaya diri kalau IPK nya bisa ditawar pas daftar gitu ternyata gabisa ditawar harga mutlak buat syarat IPK nya. Akhirnya saya gagal daftar dan uang pendaftaran UM Undip pun melayang, sungguh kegoblogan yang haqiqi :”)
11. LPDP Dalam Negeri
Beasiswa ini tentunya sangat popular ya dikalangan masyarakat Indonesia, tapi sejujurnya dari awal saya gak mau daftar LPDP karena ada beberapa hal dan itu tidak bisa saya sampaikan disini. Seleksi LPDP tahun 2018 ini terbilang lebih ketat karena ada seleksi TPA bekerja sama dengan BKN. Alhamdulillah di beasiswa LPDP ini saya lolos sampai tahap substansi tetapi saya tidak datang seleksi substansi dan aka nada penjelasannya dibawah nanti. Seleksi administrasi LPDP menurut saya yang penting lengkap semua dan sesuai persyaratan pasti akan lolos administrasi. Tahap selanjutnya ini yang rada susah yakni Seleksi Berbasis Komputer (SBK) terdiri dari 3 ujian yakni TPA, Tes Kepribadian dan Essay On The Spot. Persiapan tes SBK ini hanya sekitar seminggu lebih jadi saya hanya modal belajar dari buku TPA Bappenas dan Alhamdulillah nilainya berhasil melewati passing grade. Untuk lolos ke tahap substansi memang hanya nilai TPA yang dinilai dan nilai tes kepribadian dan essay masuk ke penilaian tes substansi. Tes substansinya sendiri terdiri dari verifikasi dokumen, leaderless group discussion (LGD) dan wawancara.
12. Ignacy Lukasiewicz Scholarship
Beasiswa ini merupakan beasiswa dari pemerintah Polandia untuk beberapa Negara berkembang yang ada kerjasama bilateral. Persyaratan beasiswa ini juga relative mudah serta seleksinya hanya ada 2 tahap yakni seleksi administrasi atau formal assessment lalu kemudian tahap quality assessment. Pada quality assessment nanti bakal ada penilaian terhadap proposal thesis yang kita ajukan namun terbatas hanya maksimal 2 halaman saja. Beasiswa ini hanya khusus bagi bidang ilmu sains jadi lumayan menurunkan tingkat persaingan sama anak social humaniora wkwkwk. Pada proses pembuatan proposal thesis saya buat 2 proposal awalnya setelah pertimbangan lama dan meminta masukan ke dosen dan teman-teman saya akhinya saya memasukkan proposal mengenai pembuatan biohidrogen. Pada proposal ini saya bagi jadi 3 bagian singkat yakni general description, purpose dan method. Karena sebelumnya pas kuliah sering nulis karya ilmiah dan pernah menerbitkan jurnal internasional juga jadi saya tidak mengalami kesulitan yang berarti namun juga saya mendapat beberapa kritik dan saran dari dosen dan teman-teman saya. Setelah menunggu lama proses seleksi tahap 1 dan 2 akhirnya saya dipertemukan dengan jodoh saya. Pengumuman beasiswa keluar saat jam 10 malam WITA dan pengumuman hanya dalam bentuk list nomor pendaftaran setelah melihat dulu nomor pendaftaran saya lalu saya langsung loncat kegirangan karena nomor saya masuk dalam list penerima beasiswa, Alhamdulillah setelah perjuangan hampir 1 tahun lamanya Allah akhirnya menunjukan jalan terbaik buat saya :”)
Selain beasiswa-beasiswa diatas saya juga mempunyai list beasiswa yang sempat saya rangkum namun karena beberapa hal seperti kurang memenuhi persyaratan akhirnya saya tidak jadi daftar. Berikut list beasiswanya beserta deadline :
1. Swedish Institute Scholarship (9 Februari)
2. Eiffel Scholarship (12 Januari)
3. KAUST (15 Januari)
4. ICCR Scholarship (20 Januari)
5. VLIR-UOS (Februari-Maret)
6. Taiwan ICDF (16 Maret)
7. Brunei Government Scholarship (28 Februari)
8. Russian Government Scholarship (3 Maret)
9. Romanian Government Scholarship (15 Maret)
10. KAIST (17 April)
11. MEXT Scholarship (16 Mei)
12. JICA Scholarship (19 Mei)
13. IMF Scholarship (1 Juni)
14. Endeavour Scholarship (30 Juni)
15. SEARCA (31 Juli)
16. Switzerland Government Scholarship (1 Agustus)
17. Mexico Government Scholarship (28 September)
18. DAAD Scholarship (15 Oktober)
19. Czech Government Scholarship (30 September)
20. Jardine Scholarship (19 Oktober)
21. Chevening (7 November)
22. Inpex Scholarship (15 November)
23. Eric Bleumink Fund (1 Desember)
Sebenarnya masih sangat banyak beasiswa lainnya asal kita mau berusaha mencari. Cukup dengan google dan masuk ke portal-portal beasiswa atau langsung ke website masing-masing universitas. Saya pernah dikasih tahu bahwa salah satu atribut dasar seseorang yang pantas mendapat beasiswa adalah proaktif mencari informasi bukan yang cuma bisa nanya ke orang link beasiswanya apa? Persyaratannya apa aja? dll. Demikian akhir dari tulisan saya yang cukup panjang ini semoga bermanfaat bagi yang membaca dan mohon doanya juga semoga studi S2 saya lancar dan bermanfaat. Apabila ada yang ingin didiskusikan lebih lanjut atau meminta contoh proposal saya atau motivation letter dapat menghubungi via email ke doddydarmawanmuhammad@gmail.com. Akhir kata semangat terus bagi kalian para scholarship hunter!













Tidak ada komentar:
Posting Komentar